Ancaman Jihadis Global Itu Nyata, tapi Perang Melawan Islam Justru Memperburuknya

2 April 2026

Ancaman Jihadis Global Itu Nyata, tapi Perang Melawan Islam Justru Memperburuknya

Kelompok militan Islamis memang menyerang warga sipil di seluruh dunia. Namun, kesalahan terbesar pemerintah adalah mengubah ancaman ini menjadi perang melawan seluruh umat Islam. Cara ini justru melemahkan intelijen dan membantu ekstremis merekrut anggota baru.

Narasi yang keliru adalah bahwa dunia sedang menghadapi bentrokan sederhana antara Islam dan pihak lainnya. Narasi ini memang memuaskan bagi mereka yang ingin ada musuh besar untuk menjelaskan setiap pengeboman, pembantaian, dan ancaman online. Namun, narasi itu sangat salah dan berbahaya. Kenyataannya lebih rumit dan serius. Jaringan militan Islamis tetap menjadi salah satu ancaman keamanan lintas negara yang paling gigih di dunia, tetapi mereka tidak mewakili hampir dua miliar Muslim. Memperlakukan mereka seolah-olah demikian justru telah berulang kali memperburuk masalah.

Bukti ancaman itu sendiri tidak diragukan. Kelompok-kelompok seperti ISIS, al-Qaeda, al-Shabaab, Boko Haram, dan cabang-cabang regionalnya secara terang-terangan menyerukan serangan terhadap warga sipil. Mereka telah melakukan kekerasan massal di Timur Tengah, Afrika, Asia, dan Eropa. Selama bertahun-tahun, Global Terrorism Index menunjukkan bahwa kelompok ekstremis Islamis tetap menjadi salah satu organisasi paling mematikan di dunia, meskipun peta kekerasan terus bergeser. Wilayah kekhalifahan ISIS di Irak dan Suriah memang sudah runtuh, tetapi cabang dan afiliasinya bertahan. Di Afghanistan, Provinsi Khorasan ISIS melancarkan serangan-serangan mematikan. Di Sahel, pemberontakan jihadis meluas secara dramatis. Di Somalia, al-Shabaab terus menyerang target militer dan sipil. Di Nigeria dan kawasan Danau Chad, kekerasan jihadis masih mengguncang seluruh komunitas.

Para korban bukan hanya dan bukan terutama orang Barat. Poin ini penting karena debat publik sering kali dibajak oleh sudut pandang yang sempit dan egois. Di banyak negara, Muslim justru menjadi kelompok korban terbesar yang dibunuh oleh kelompok jihadis. Pasar, masjid, sekolah, bus, dan desa-desa di Irak, Pakistan, Afghanistan, Nigeria, Suriah, dan Somalia semuanya pernah menjadi sasaran. Umat Kristen, Yazidi, Hindu, Sikh, dan target sekuler juga diserang. Ideologi mereka brutal, sektarian, dan ingin terus berekspansi. Mereka tidak berhenti pada satu musuh. Mereka beralih dari "musuh jauh" ke "musuh dekat," dari orang asing ke minoritas lokal, hingga sesama Muslim yang dianggap tidak murni. Siapa pun yang berpura-pura ini hanya tentang non-Muslim berarti tidak membaca catatan sejarah. Siapa pun yang berpura-pura non-Muslim tidak terancam berarti mengabaikannya.

Membedakan hal ini bukanlah soal basa-basi politik, melainkan soal akurasi dasar. Akurasi penting karena diagnosis yang salah menghasilkan kebijakan yang buruk. Setelah serangan 11 September, Amerika Serikat dan sekutunya membangun struktur kontraterorisme yang sangat besar. Beberapa bagiannya berhasil. Berbagi informasi intelijen internasional membaik. Pelacakan keuangan jaringan ekstremis menjadi lebih canggih. Aparat keamanan berhasil menggagalkan banyak rencana serangan di Eropa, Amerika Utara, dan tempat lain. Namun, perang selama dua dekade juga menunjukkan harga dari kebingungan strategis. Ketika negara-negara tidak lagi hanya menargetkan jaringan kekerasan tetapi mulai mencurigai seluruh komunitas agama, mereka memberi hadiah propaganda kepada para ekstremis. Perekrut jihadis telah lama berargumen bahwa Muslim di mana pun sedang diserang oleh kekuatan musuh. Penahanan tanpa pandang bulu, skandal penyiksaan, kecurigaan kolektif, dan retorika yang sembrono tidak mengalahkan pesan itu, malah justru menyuburkannya.

Penyebab utamanya sebenarnya tidak misterius, meskipun bervariasi di setiap wilayah. Kelompok jihadis tumbuh subur di mana negara lemah, perbatasan mudah ditembus, aparat keamanan sewenang-wenang, dan ada masalah lokal yang belum terselesaikan. Irak setelah invasi tahun 2003 adalah contoh nyata. Runtuhnya negara, politik sektarian, dan radikalisasi di penjara membantu menciptakan lahan subur bagi kebangkitan ISIS. Di Suriah, perang saudara dan kebrutalan rezim membuka ruang bagi kelompok ekstremis untuk berkembang. Di Sahel, pemerintahan yang lemah, ketegangan etnis, pengabaian pedesaan, dan kudeta militer telah membantu para pemberontak berekspansi. Di Afghanistan, konflik selama puluhan tahun melumpuhkan institusi dan membuat ideologi bersenjata tertanam dalam. Agama adalah bagian dari narasi yang digunakan kelompok-kelompok ini, tetapi kegagalan negaralah yang sering kali menjadi oksigennya.

Ada juga dimensi digital yang masih ditangani dengan buruk oleh banyak pemerintah. ISIS menunjukkan kepada dunia bahwa propaganda tidak lagi membutuhkan wilayah fisik. Propaganda bisa membangun "wilayah" di dalam pikiran. Video yang dipoles, platform obrolan terenkripsi, dan jaringan online yang terdesentralisasi mengubah radikalisasi menjadi saluran lintas negara. Perusahaan teknologi menjadi lebih agresif setelah tahun 2015 dalam menghapus konten ekstremis, dan platform-platform besar tidak lagi permisif seperti dulu. Namun, masalahnya tidak hilang, melainkan terpecah-pecah. Konten pindah ke platform yang lebih kecil, saluran pribadi, dan bahasa lokal yang lebih sulit dipantau. Ini bukan hanya masalah di medan perang, ini adalah masalah informasi.

Dampak globalnya jauh lebih besar daripada serangan itu sendiri. Kekerasan jihadis mendorong migrasi, menghancurkan pariwisata, menakuti investor, mengganggu sekolah, dan membuat pemerintahan yang rapuh menjadi semakin lemah. Kekerasan ini juga meracuni politik jauh di luar zona konflik. Setiap serangan besar di Eropa atau di tempat lain memicu siklus buruk yang sama: ketakutan, reaksi berlebihan, kecurigaan massal, demagogi perang budaya, lalu keterasingan yang lebih dalam. Siklus ini secara politis menguntungkan para ekstremis di semua sisi. Jihadis butuh polarisasi. Begitu pula para oportunis yang ingin menggambarkan setiap tetangga Muslim sebagai ancaman tersembunyi. Kedua kubu ini saling menguatkan. Keduanya sama-sama berbahaya.

Argumen balasannya sudah jelas. Para kritikus mengatakan pemerintah telah bertahun-tahun bersikap terlalu hati-hati terhadap ideologi Islamis, bersembunyi di balik kata-kata halus, dan menolak mengakui bahwa beberapa kelompok militan secara terbuka menggunakan pembenaran agama untuk membunuh non-Muslim dan memaksakan aturan teokratis. Ada kebenaran dalam kritik itu. Bahasa yang lemah bisa menjadi penyangkalan. Bukanlah sebuah kefanatikan untuk menyatakan dengan tegas bahwa kelompok jihadis menggunakan interpretasi radikal Islam untuk membenarkan kekerasan. Bukan pula histeria untuk mengakui bahwa beberapa dari mereka memiliki jangkauan lintas negara dan bertujuan melakukan pembunuhan massal. Sebuah ancaman keamanan harus disebut dengan jelas.

Namun, inilah jawaban telaknya, dan ini sangat menentukan. Menyebut ideologinya tidak sama dengan menghakimi sebuah agama. Menyamakan keduanya adalah sebuah kemalasan intelektual dan merugikan diri sendiri secara strategis. Orang-orang yang paling mampu melawan ideologi jihadis sering kali adalah umat Muslim itu sendiri: para ulama, pemimpin lokal, keluarga, mantan ekstremis, guru, dan mitra keamanan di negara-negara mayoritas Muslim. Jika kebijakan justru mengubah mereka menjadi tersangka alih-alih sekutu, negara sama saja bertarung dalam keadaan setengah buta.

Solusi yang berhasil tidaklah sehebat retorika peradaban yang muluk. Pemerintah membutuhkan intelijen yang akurat, bukan kemarahan yang dibuat-buat. Mereka perlu mendukung pemerintahan lokal di negara-negara yang rapuh, bukan hanya mengirim drone dan siaran pers. Mereka membutuhkan sistem penjara yang tidak menjadi sekolah pascasarjana bagi ekstremisme. Mereka butuh gangguan yang terarah pada rute pendanaan dan penyelundupan. Mereka perlu koordinasi yang lebih baik dengan mitra-mitra di Afrika dan Asia, karena sebagian besar kekerasan jihadis paling mematikan kini terjadi di luar sorotan dunia Barat. Dan mereka membutuhkan kemitraan masyarakat yang kredibel di dalam negeri, yang dibangun di atas kepercayaan dan hukum, bukan rasa bersalah kolektif.

Tidak ada rumus ajaib. Bukti keberhasilan program deradikalisasi masih beragam, dan pemerintah sering melebih-lebihkan hasil yang bisa dicapai. Kekuatan militer terkadang diperlukan. Terkadang, itu satu-satunya yang bisa melindungi warga sipil dari pembantaian. Namun, kekuatan militer tanpa strategi politik hanyalah seperti lari di tempat. Pengawasan tanpa legitimasi adalah jebakan. Dan slogan tentang perang antara Islam dan dunia luar bukanlah strategi. Itu adalah kepanikan yang disamarkan sebagai kejelasan.

Dunia harus bisa memahami dua hal sekaligus. Pertama, militansi jihadis itu nyata, mematikan, dan bersifat internasional. Kedua, mengubah fakta itu menjadi narasi pukul rata tentang Muslim versus non-Muslim adalah kesalahan fatal. Salah satu kebenaran tanpa yang lain akan berujung pada penyangkalan atau demagogi. Keduanya tidak akan membuat dunia lebih aman. Negara-negara yang serius membutuhkan sesuatu yang lebih langka: keberanian untuk berbicara jujur dan disiplin untuk berpikir jernih.

Source: Editorial Desk

Publication

The World Dispatch

Source: Editorial Desk

Category: World