Kultus Individu Modi: Ujian Berat bagi Demokrasi India
2 April 2026
Kekuatan politik Narendra Modi bukan sekadar soal pemilu atau mesin partai. Kekuasaannya dibangun dari citra pribadi yang seolah tak pernah salah, dan para kritikus khawatir citra ini justru melemahkan institusi negara yang seharusnya lebih penting dari pemimpin mana pun.
Banyak orang menganggap dominasi Narendra Modi di panggung politik India hanya sebagai popularitas biasa. Anggapan itu terlalu dangkal. Pemimpin populer datang dan pergi. Yang membuat Modi berbeda adalah skala pemusatan kekuatan pada dirinya. Di India saat ini, partai yang berkuasa, Bharatiya Janata Party (BJP), sering kali tidak terlihat seperti partai pemerintah biasa. BJP lebih mirip mesin yang dirancang untuk memperkuat wewenang, citra, dan kehendak satu orang. Para kritikus menyebutnya politik figur. Para pengagumnya menyebutnya kepemimpinan yang tegas. Namun, pertanyaan sebenarnya lebih serius: apa yang terjadi pada demokrasi ketika institusi dikesampingkan demi aura seorang pemimpin?
Ini bukan keluhan abstrak. Buktinya terlihat jelas dalam cara kerja politik India sekarang. Modi telah menjadi wajah utama dalam pemilu nasional, kampanye di tingkat negara bagian, promosi program kesejahteraan, dan pesan kebijakan luar negeri. Program-program pemerintah sangat lekat dengan citranya. Kampanye BJP secara rutin menempatkannya di posisi pusat, bahkan dalam pemilihan lokal yang seharusnya bergantung pada rekam jejak pemerintah daerah, calon lokal, atau kegagalan kebijakan tertentu. Pada pemilu 2024, meski BJP kehilangan mayoritas mutlak dan harus bergantung pada sekutu untuk membentuk pemerintahan, kampanye tetap sangat berpusat pada pesona pribadi Modi, bukan pada tim kabinet atau platform partai yang lebih luas. Hal ini penting karena menunjukkan ketergantungan sistem pada satu figur tidak memudar bahkan setelah adanya peringatan keras dari hasil pemilu.
Pemusatan kekuasaan di sekitar kantor perdana menteri (PMO) juga telah banyak dicatat oleh para pengamat pemerintahan India. India memang pernah memiliki perdana menteri yang kuat, mulai dari Indira Gandhi. Namun, di bawah Modi, PMO dianggap sangat dominan dalam mengendalikan kebijakan dan pesan politik. Para analis, mantan pejabat, dan pemimpin oposisi selama bertahun-tahun berpendapat bahwa para menteri sering kali tampak menjadi nomor dua. Keputusan-keputusan besar dikendalikan secara ketat dari puncak. Ini tidak membuktikan adanya tindakan ilegal atau kediktatoran. Namun, ini menunjukkan gaya pemerintahan di mana wewenang pribadi menutupi peran kabinet, perdebatan di parlemen, dan otonomi internal partai.
Para pendukungnya punya argumen balasan yang kuat. India adalah negara yang sangat luas dan sulit untuk diperintah. Populasinya besar, birokrasinya rumit, konflik politik terus terjadi, dan kapasitas pemerintah di berbagai daerah tidak merata. Dalam situasi seperti itu, mereka berpendapat, seorang pemimpin yang kuat dapat menerobos kebuntuan. Mereka menunjuk pada program pembangunan infrastruktur, perluasan pembayaran digital, sistem penyaluran bantuan sosial, dan sikap India yang lebih tegas di panggung internasional. Sebagian dari argumen itu ada benarnya. Modi telah memproyeksikan kedisiplinan dan arah yang jelas dalam budaya politik yang sering dicemooh karena kelumpuhannya. Banyak pemilih jelas menghargai itu. Kemenangan beruntunnya di tingkat nasional tidak terjadi secara kebetulan.
Namun, pembelaan itu tidak menjawab isu yang lebih dalam. Kepemimpinan yang kuat tidak sama dengan pemujaan terhadap pemimpin. Negara demokrasi membutuhkan eksekutif yang bisa bertindak. Tapi, mereka tidak membutuhkan budaya politik yang menganggap kritik sebagai penistaan. Di sinilah tudingan "kompleks dewa", meski bersifat retoris dan mustahil diukur secara klinis, memiliki dampak politis. Tudingan itu merujuk pada citra publik yang seolah-olah tidak bisa berbuat salah. Tudingan itu menunjuk pada gaya di mana sang pemimpin tidak hanya ditampilkan sebagai pemenang pemilu, tetapi juga sebagai sosok yang ditakdirkan secara unik, bermoral tinggi, dan kebal dari pengawasan biasa. Hal itu berbahaya dalam demokrasi mana pun, dan terutama berbahaya di negara sebesar dan seberagam India.
Akar masalah ini bersifat politis sekaligus pribadi. BJP di bawah Modi dan Menteri Dalam Negeri Amit Shah menjadi mesin pemenang pemilu dengan menggabungkan identitas nasionalis Hindu, politik kesejahteraan, disiplin pesan yang terpusat, dan kampanye tanpa henti. Kisah hidup Modi sendiri, dari keluarga sederhana hingga menjadi orang nomor satu, menjadi bagian dari "brand"-nya. Gaya komunikasinya juga membantu. Ia berbicara dengan kejelasan moral, menonjolkan pertaruhan yang dramatis, dan menggunakan bahasa yang menyentuh peradaban. Ini memberi para pendukungnya rasa memiliki misi, bukan sekadar pilihan kebijakan. Ini juga menyisakan sedikit ruang untuk keraguan, kompromi, atau kerendahan hati institusional.
Ekosistem media telah memperkuat tren ini. Lanskap televisi dan platform digital di India menyukai tontonan, loyalitas, dan konflik. Seorang pemimpin dengan jangkauan yang sangat besar dapat mendominasi perhatian publik setiap hari. Para kritikus pemerintah telah lama berpendapat bahwa sebagian media arus utama telah menjadi terlalu tunduk pada kekuasaan, terutama pada isu-isu nasional yang penting. India masih memiliki jurnalis-jurnalis tangguh dan media independen, tetapi mereka beroperasi di lingkungan yang lebih keras daripada satu dekade lalu. Ketika sebuah sistem politik dipenuhi dengan citra satu pemimpin, akuntabilitas menjadi lebih sulit. Bukan tidak mungkin, tetapi lebih sulit.
Konsekuensinya lebih besar dari sekadar estetika politik. Kinerja parlemen memburuk ketika perdebatan semakin tipis dan undang-undang disahkan dengan cepat tanpa pengawasan yang cukup. Keseimbangan federal terganggu ketika politik di tingkat negara bagian ditarik ke isu nasional seputar gengsi satu pemimpin. Birokrasi menjadi lebih takut mengambil risiko ketika para pejabat lebih fokus membaca sinyal dari atasan daripada menyelesaikan masalah dengan jujur. Bahkan pemilu menjadi lebih bias ketika para pemilih diminta untuk memilih seorang juru selamat daripada menilai rekam jejak pemerintahan. India tetap negara demokrasi elektoral. Itu fakta. Tetapi demokrasi elektoral bukanlah satu-satunya hal yang penting. Institusi-institusi negara harus memiliki kekuatan mereka sendiri.
Ada juga risiko strategis bagi Modi sendiri dan bagi BJP. Personalisasi tampak tak terkalahkan, sampai tiba-tiba terlihat rapuh. Jika terlalu banyak wewenang terikat pada satu sosok, setiap kemunduran menjadi masalah pribadi. Turunnya perolehan suara BJP pada tahun 2024 menunjukkan hal itu. Partai tersebut tetap berkuasa, tetapi hasilnya meruntuhkan mitos tentang ekspansi politik yang tak terbatas. Hasil itu menunjukkan bahwa program kesejahteraan, pesan nasionalis, dan karisma pribadi tetap memiliki batas ketika isu lapangan kerja, inflasi, ketidaksetaraan, dan keluhan lokal mulai terasa. Sebuah partai yang terlalu bergantung pada satu pemimpin bisa kesulitan untuk memperbarui diri, mentolerir perdebatan internal, atau mempersiapkan penerus yang kredibel.
Semua ini tidak berarti India adalah satu-satunya yang bermasalah. Kultus individu dan pelampauan wewenang eksekutif adalah masalah global. Amerika Serikat, Turki, Hungaria, Rusia, dan banyak negara lain telah menunjukkan versi dari pola ini, meskipun skala dan tingkat keparahannya sangat berbeda. Peringatannya bukan bahwa India telah melanggar semua batas demokrasi. Peringatannya adalah bahwa pemilih bisa saja menormalisasi pemusatan kekuasaan karena hal itu datang dalam kemasan efisiensi, kebanggaan, dan kesuksesan elektoral.
Lalu, seperti apa jalan yang lebih sehat? Pertama, pengawasan parlemen yang lebih kuat. Undang-undang dengan dampak sosial atau konstitusional yang besar harus melalui tinjauan komite yang lebih dalam dan perdebatan yang lebih penuh. Kedua, demokrasi internal partai yang lebih baik di seluruh lanskap politik India, termasuk di BJP. Partai yang menjadi instrumen satu orang pada akhirnya akan membusuk. Ketiga, independensi dan kepercayaan diri yang lebih besar pada lembaga-lembaga yang menyelidiki, mengaudit, dan mengatur kekuasaan publik. Keempat, budaya media yang tidak terlalu kecanduan pada pemujaan politik dan lebih berkomitmen pada pemberitaan yang kritis. Tak satu pun dari langkah-langkah ini membutuhkan revolusi. Semua itu hanya membutuhkan rasa hormat pada demokrasi itu sendiri.
India tidak butuh para pemimpin yang kurang ambisius. India butuh lebih banyak kerendahan hati dalam politiknya. Itulah isu sebenarnya di balik retorika tentang "kompleks dewa". Tidak ada perdana menteri terpilih yang boleh diperlakukan seperti dewa bangsa, titisan peradaban, atau satu-satunya wadah kehendak rakyat. Politik semacam itu terasa kuat sampai pada akhirnya mulai menggerogoti sistem yang membuat pemimpin itu berkuasa. Modi telah mengubah India lebih dari pemimpin mana pun dalam beberapa dekade terakhir. Pertanyaannya sekarang adalah apakah demokrasi India dapat tetap lebih besar daripada sosok yang mendominasinya.
Source: Editorial Desk