Di Balik Skrining Teror, Bank Diam-diam Cetak Miliaran Dolar

16 April 2026

Di Balik Skrining Teror, Bank Diam-diam Cetak Miliaran Dolar

Pemberantasan dana teroris telah melahirkan industri baru bernilai miliaran dolar. Bank, firma teknologi, dan konsultan meraup untung besar saat pemerintah menuntut skrining yang lebih ketat. Padahal, sistemnya sering kali salah sasaran dan memicu banyak masalah.

Perang melawan pendanaan teroris awalnya digaungkan sebagai sebuah kewajiban moral. Ikuti aliran uangnya, hentikan kekerasannya, dan lumpuhkan jaringannya. Itulah janji yang diberikan setelah tragedi 9/11. Pemerintah di seluruh dunia dengan cepat mengubahnya menjadi undang-undang yang mengubah dunia perbankan selamanya. Dua dekade kemudian, ada kenyataan lain yang tidak bisa diabaikan. Pemberantasan pendanaan terorisme bukan lagi sekadar misi keamanan. Ini telah menjadi bisnis raksasa yang sangat menguntungkan.

Lihat saja angkanya dan gambaran besarnya akan terlihat jelas. Menurut beberapa perkiraan industri, biaya kepatuhan terhadap aturan kejahatan keuangan kini membebani sektor finansial global lebih dari $200 miliar per tahun. Data ini termasuk survei dari LexisNexis Risk Solutions dan lembaga lainnya. Kategori ini mencakup anti-pencucian uang, penegakan sanksi, dan pemberantasan pendanaan terorisme. Sulit untuk memisahkan biaya khusus untuk terorisme, tetapi tidak ada bankir serius yang akan menyangkal bahwa aturan skrining teror kini menjadi bagian dari operasional harian. Setiap transfer kawat, setiap profil nasabah, dan setiap pembayaran lintas batas berada di bawah sistem peringatan software, pemeriksaan dokumen, dan tinjauan risiko yang rumit ini.

Pihak yang diuntungkan mudah ditemukan. Bank-bank besar mempekerjakan ribuan staf compliance. Perusahaan spesialis menjual alat skrining daftar pantauan, sistem pemantauan transaksi, produk verifikasi identitas, dan layanan uji tuntas. Perusahaan konsultan raksasa menagih biaya besar untuk membantu dewan direksi menghindari sanksi regulator. Thomson Reuters, LexisNexis Risk Solutions, NICE Actimize, Fiserv, Oracle, dan sejumlah pemain regtech lainnya telah lama mengeruk keuntungan dari pasar ini. Ini bukan bisnis sampingan. Ini adalah model bisnis yang dibangun di atas rasa takut, regulasi, dan ancaman denda miliaran dolar.

Ancaman itu sangat nyata. Dalam dekade terakhir, regulator telah menjatuhkan denda besar kepada bank-bank karena kontrol yang lemah terkait pelanggaran sanksi dan kegagalan kepatuhan lainnya. Banyak kasus ini tumpang tindih dengan penegakan aturan pendanaan teroris. BNP Paribas membayar denda hampir $9 miliar pada tahun 2014 atas pelanggaran sanksi. Standard Chartered, HSBC, Deutsche Bank, dan lainnya berulang kali menghadapi sanksi berat di AS dan Inggris. Tidak semua kasus secara sempit terkait pendanaan teroris, tetapi pesan bagi industri ini sangat jelas: keluarkan biaya berapa pun, atau hancur.

Maka, bank-bank pun jor-joran mengeluarkan uang. Mereka menghabiskannya dengan kepanikan seperti orang yang membayar uang keamanan kepada sistem yang tidak pernah berhenti meminta lebih. JPMorgan, HSBC, Deutsche Bank, dan bank global lainnya telah mengungkapkan bahwa mereka mempekerjakan ribuan, bahkan puluhan ribu, staf di bidang risiko dan compliance. Bertahun-tahun lalu, HSBC mengatakan memiliki lebih dari 7.000 karyawan compliance setelah tersandung skandal. Kini, institusi besar menjalankan birokrasi compliance raksasa yang tampak tidak masuk akal di tahun 1990-an. Tidak ada yang mau menjadi contoh buruk berikutnya yang diseret ke hadapan senator, regulator, dan halaman depan surat kabar.

Namun, ada satu hal yang jarang diakui oleh industri ini. Mesin raksasa ini mahal, kaku, dan sering kali sangat tidak akurat. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa jumlah dana kejahatan yang berhasil disita di seluruh dunia hanya sebagian kecil dari total aliran uang ilegal. Berbagai studi akademis dan kajian kebijakan berulang kali menemukan bahwa sistem anti-pencucian uang menghasilkan banyak sekali laporan aktivitas mencurigakan, tetapi dampak nyata yang dihasilkannya sangat terbatas jika dibandingkan dengan biayanya. Sistem pendanaan teroris bahkan lebih sulit dinilai, tetapi tingkat alarm palsunya sangat tinggi. Kelompok kemanusiaan, migran, badan amal kecil, dan bisnis milik Muslim semuanya pernah terjebak dalam jaring ini.

Inggris menawarkan salah satu gambaran paling jelas tentang masalah ini. Selama bertahun-tahun, badan amal Muslim yang beroperasi di zona konflik mengeluh bahwa rekening bank mereka ditutup atau transfernya ditunda. Ini terjadi karena bank takut terkena risiko pendanaan teroris. Dalam beberapa kasus, kelompok bantuan yang mencoba mengirimkan bantuan legal ke Suriah, Somalia, atau Gaza diperlakukan bukan sebagai nasabah, melainkan sebagai sumber masalah. Berbagai organisasi kemanusiaan telah berulang kali memperingatkan bahwa kepatuhan berlebihan, atau yang dikenal sebagai de-risking, telah membekukan kegiatan yang sah. Sederhananya, bank sering kali memutuskan lebih aman untuk meninggalkan seluruh kategori nasabah daripada harus membuktikan bahwa nasabah tersebut aman.

Amerika Serikat juga mengalami pola yang sama. Setelah bertahun-tahun penegakan aturan yang ketat, bisnis jasa pengiriman uang yang melayani komunitas imigran melaporkan penutupan rekening dan kesulitan mengakses layanan perbankan. Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya telah mendokumentasikan bagaimana de-risking menghantam jalur remitansi, terutama yang terhubung dengan negara-negara rapuh. Somalia menjadi contoh klasiknya. Ketika bank-bank menarik diri dari layanan remitansi karena takut melanggar aturan, keluarga yang bergantung pada uang dari luar negeri tiba-tiba terjebak. Tujuannya adalah keamanan. Efek yang dirasakan adalah cekikan ekonomi.

Namun, pengeluaran terus meningkat. Di sinilah kisah bisnis ini menjadi menarik. Regulasi menciptakan pasar. Rasa takut mengembungkannya. Setiap serangan teror besar, setiap gejolak geopolitik, dan setiap paket sanksi baru memberi industri compliance bahan jualan baru. Lebih banyak daftar untuk dipindai. Lebih banyak nama untuk dicocokkan. Lebih banyak software untuk dibeli. Lebih banyak ahli dari luar untuk disewa. Startup fintech kini memasarkan alat kecerdasan buatan (AI) yang menjanjikan deteksi risiko tersembunyi lebih cepat. Beberapa di antaranya memang berguna. Beberapa lainnya hanya dilebih-lebihkan. Namun, semuanya tahu satu hal: tidak ada eksekutif bank yang mau dituduh lunak terhadap pendanaan teroris.

Ada juga kenyataan pahit yang dihindari di ruang rapat. Aturan compliance telah menjadi benteng pertahanan bagi beberapa institusi dan vendor besar. Aturannya begitu rumit dan hukumannya begitu berat sehingga hanya perusahaan terbesar yang mampu menanggung biayanya. Hal ini mengunci permintaan untuk penyedia layanan raksasa dan menekan pemain kecil. Bank komunitas, pemberi pinjaman regional, dan pemain fintech menghadapi tuntutan hukum yang sama dengan sumber daya yang lebih sedikit. Akibatnya, rezim keamanan yang dirancang untuk menghentikan jaringan kekerasan justru membantu memusatkan bisnis di tangan perusahaan yang cukup kaya untuk bertahan.

Ini tidak berarti ancaman teror itu fiksi. Ancaman itu nyata. Pendanaan kelompok ekstremis telah didokumentasikan melalui berbagai cara, seperti jaringan uang tunai, badan amal sebagai kedok, sistem hawala, penyelundupan, penculikan, pencurian minyak, dan penggalangan dana online. ISIS menghasilkan pendapatan besar di puncaknya. Perkiraan dari para ahli dan pejabat AS pernah menyebut pendapatan tahunannya mencapai ratusan juta dolar atau lebih. Pemerintah punya alasan kuat untuk merespons. Namun, justru karena itulah model yang ada saat ini perlu dikritik lebih keras. Ketika sebuah sistem mengatasnamakan keamanan nasional, membakar miliaran dolar, mengganggu perdagangan yang sah, dan memperkaya industri swasta, publik berhak bertanya: apakah sistem ini melayani misinya atau justru menguntungkan dirinya sendiri?

Pertanyaan itu kini menghantui para petinggi perusahaan dengan cara baru. Investor menuntut efisiensi. Nasabah menginginkan pembayaran yang lebih cepat. Regulator menginginkan kontrol yang lebih ketat. Politisi tidak ingin ada berita buruk. Tuntutan-tuntutan ini saling bertabrakan setiap hari di dalam bank. Komprominya adalah birokrasi mahal yang tersembunyi di balik slogan patriotik. Tidak ada yang mengampanyekan hal ini. Tidak ada yang menuliskannya secara jujur dalam laporan tahunan. Tapi inilah kebenaran keuangan modern: skrining anti-teror bukan hanya alat pengaman. Ia adalah sebuah industri. Industri ini mempekerjakan ribuan orang, menghidupi para vendor, membentuk strategi, memblokir nasabah, dan diam-diam mengubah ketakutan menjadi pendapatan.

Pemberantasan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya telah berkembang menjadi sebuah pasar. Dan dari sisi bisnis, ini mungkin salah satu sektor yang pertumbuhannya paling tahan banting di dunia pasca-9/11.

Source: Editorial Desk

Publication

The World Dispatch

Source: Editorial Desk

Category: Business