Saat Dana Pendidikan Dipangkas, Anak Perempuan yang Pertama Terancam Putus Sekolah

1 April 2026

Saat Dana Pendidikan Dipangkas, Anak Perempuan yang Pertama Terancam Putus Sekolah

Banyak orang mengira sistem sekolah gagal hanya saat ruang kelas ditutup, guru berhenti datang, atau perang memaksa keluarga mengungsi. Kenyataannya, pendidikan sering kali mulai rusak jauh lebih awal dan diam-diam. Sebuah hibah berakhir. Program makan di sekolah menghilang. Beasiswa untuk anak perempuan dihentikan. Toilet tidak pernah dibangun. Guru perempuan tidak direkrut. Lalu, tingkat kehadiran menurun, terutama untuk anak perempuan, dan apa yang tadinya terlihat seperti perubahan anggaran berubah menjadi kemunduran bagi satu generasi.

Itulah mengapa peringatan UNICEF tentang pemotongan bantuan pendidikan global menjadi sangat penting, jauh melampaui urusan anggaran. Badan PBB itu mengatakan pemotongan yang akan datang dapat membuat 6 juta anak lagi putus sekolah. Angka itu sendiri sudah mengkhawatirkan. Namun, cerita yang lebih dalam adalah tentang siapa yang paling mungkin tersingkir lebih dulu. Di banyak negara berpenghasilan rendah dan daerah krisis, akses anak perempuan ke sekolah lebih rapuh daripada yang ditunjukkan oleh data pendaftaran. Akses itu sering kali ditopang oleh program bantuan khusus yang membuat sekolah menjadi mungkin, aman, atau dapat diterima secara sosial.

Kondisi global saat ini sudah suram. UNESCO memperkirakan sekitar 250 juta anak dan remaja di seluruh dunia tidak bersekolah. Bank Dunia dan UNICEF juga telah memperingatkan adanya krisis pembelajaran yang parah, dengan banyak anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak bisa membaca teks sederhana pada usia 10 tahun. Bantuan bukanlah satu-satunya jawaban, dan sebagian besar belanja pendidikan berasal dari pemerintah nasional. Namun, pendanaan eksternal memainkan peran yang sangat besar di negara-negara rentan, lokasi pengungsian, dan komunitas miskin di mana sistem domestik sudah tertekan. Di tempat-tempat itu, kehilangan bantuan bukan berarti memangkas hal-hal tambahan. Itu bisa berarti kehilangan dukungan dasar yang membuat anak-anak tetap bersekolah.

Anak perempuan sangat rentan karena hambatan yang mereka hadapi sering kali menumpuk. Keluarga yang mengalami kesulitan keuangan mungkin masih mengatakan mereka menghargai pendidikan untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun, ketika biaya sekolah naik, transportasi menjadi tidak aman, atau pekerjaan rumah tangga meningkat, anak perempuan lebih mungkin untuk tinggal di rumah. Penelitian di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara telah berulang kali menunjukkan bahwa biaya sekolah sekecil apa pun, baik langsung maupun tidak langsung, dapat mengurangi kehadiran anak perempuan. Seragam, pembalut, biaya ujian, atau ongkos bus bisa menjadi penentu keputusan sebuah keluarga.

Pola ini sudah pernah terlihat sebelumnya. Selama wabah Ebola di Afrika Barat, penutupan sekolah di Sierra Leone diikuti oleh peningkatan kehamilan remaja dan lonjakan tajam jumlah anak perempuan yang tidak kembali ke sekolah. Selama pandemi COVID-19, lembaga pendidikan dan peneliti memperingatkan bahwa anak perempuan menghadapi risiko lebih tinggi untuk putus sekolah secara permanen di beberapa negara karena pernikahan dini, pekerjaan rumah tangga tanpa upah, dan tekanan pendapatan di rumah. Di Malawi, Kenya, dan beberapa bagian Asia Selatan, program kembali ke sekolah yang didukung bantuan berhasil memulihkan sebagian dari kehilangan itu. Pelajarannya jelas: ketika krisis melanda, anak perempuan sering kali membutuhkan dukungan aktif untuk bisa kembali ke kelas. Tanpa dukungan itu, banyak dari mereka tidak akan kembali.

Yang membuat pemotongan bantuan saat ini begitu berbahaya adalah karena targetnya bisa jadi program-program yang paling mudah dianggap tidak penting oleh kementerian keuangan dan para donatur. Ini termasuk bantuan tunai untuk keluarga miskin, program makan di sekolah, penjangkauan komunitas, beasiswa anak perempuan, transportasi aman, dukungan kebersihan menstruasi, dan perekrutan guru perempuan. Namun, bukti menunjukkan program-program ini bukanlah pelengkap. Mereka adalah salah satu alat paling efektif untuk mempertahankan anak perempuan di sekolah.

Program makan di sekolah adalah contoh yang jelas. World Food Programme telah lama mendokumentasikan bahwa makanan di sekolah meningkatkan kehadiran dan membantu keluarga membenarkan biaya untuk menyekolahkan anak-anak. Di daerah rawan pangan, ini bisa menjadi faktor penentu. Program bantuan tunai telah menunjukkan efek serupa. Studi di negara-negara seperti Bangladesh dan Pakistan menemukan bahwa tunjangan yang terkait dengan kehadiran anak perempuan dapat meningkatkan pendaftaran sekolah dan menunda pernikahan. Fasilitas sanitasi terpisah dan rute yang lebih aman ke sekolah juga lebih penting dari yang terlihat, terutama bagi remaja perempuan.

Pemotongan bantuan juga memukul sistem di balik ruang kelas. Di negara-negara yang menampung pengungsi seperti Uganda dan Lebanon, pendanaan donatur telah membantu pemerintah dan lembaga memperluas kapasitas sekolah, melatih guru, mencetak materi, dan mendukung sekolah sistem sif ganda. Di zona konflik, bantuan sering kali mendanai pusat pembelajaran sementara dan pendidikan akselerasi bagi anak-anak yang telah ketinggalan sekolah selama bertahun-tahun. Jika dana itu menyusut, tanda pertama yang terlihat mungkin adalah kelas yang terlalu padat atau materi belajar yang lebih sedikit. Tanda berikutnya mungkin adalah ketidakhadiran siswa. Dan yang terakhir adalah putus sekolah.

Konsekuensinya jauh melampaui statistik pendidikan. Anak perempuan yang putus sekolah lebih awal menghadapi risiko lebih tinggi terhadap pernikahan anak, kehamilan dini, dan pendapatan rendah seumur hidup. UNICEF, UNESCO, dan Bank Dunia semuanya mengaitkan pendidikan anak perempuan dengan angka kematian ibu yang lebih rendah, kesehatan anak yang lebih baik, dan ketahanan rumah tangga yang lebih kuat. Setiap tahun tambahan sekolah berkorelasi dengan pendapatan masa depan yang lebih tinggi dan hasil sosial yang lebih baik. Secara praktis, memotong bantuan untuk pendidikan anak perempuan hari ini akan meningkatkan biaya kesejahteraan di kemudian hari. Ini mengalihkan beban dari sistem sekolah ke sistem kesehatan, anggaran perlindungan sosial, dan keluarga yang sudah berjuang.

Ada juga konsekuensi politik. Pemerintah dan para donatur telah bertahun-tahun berargumen bahwa mendidik anak perempuan adalah salah satu investasi terpintar dalam pembangunan. Argumen itu didukung oleh bukti dan diulang-ulang di berbagai pertemuan puncak global. Jika pendanaan sekarang ditarik kembali saat kebutuhan masih tinggi, kredibilitas komitmen tersebut akan melemah. Masyarakat akan sadar ketika janji-janji itu hilang. Begitu pula para orang tua yang memutuskan apakah sekolah masih layak dipertaruhkan.

Solusinya bukan sekadar meminta lebih banyak uang kepada donatur, meskipun pendanaan berkelanjutan jelas dibutuhkan. Solusinya adalah melindungi bagian-bagian dari belanja pendidikan yang memberikan hasil tertinggi untuk akses dan retensi siswa. Jika anggaran menipis, beasiswa untuk anak perempuan, program makan di sekolah, sanitasi, dukungan transportasi, dan penjangkauan lokal harus diperlakukan sebagai infrastruktur inti, bukan tambahan opsional. Lembaga pemberi pinjaman multilateral dan lembaga donatur juga dapat berbuat lebih banyak untuk membantu pemerintah mengatasi kekurangan tanpa menyebabkan program-program runtuh secara tiba-tiba. Pendanaan multi-tahun yang dapat diprediksi jauh lebih penting daripada janji-janji besar yang datang terlambat atau hilang setelah satu siklus.

Pemerintah nasional juga memiliki peran. Beberapa negara telah memperluas akses melalui penghapusan biaya sekolah, tunjangan yang ditargetkan, dan pemantauan komunitas yang lebih kuat bahkan di bawah tekanan fiskal yang parah. Data yang lebih baik juga dapat membantu. Ketika pejabat melacak kehadiran berdasarkan jenis kelamin, usia, disabilitas, dan wilayah, mereka dapat melihat di mana tren putus sekolah dimulai dan melakukan intervensi lebih awal. Terlalu sering, sistem baru bereaksi setelah seorang anak sudah hilang dari daftar sekolah.

Bagian tersulit dari cerita ini adalah kerusakannya bisa tetap tersembunyi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sebuah gedung sekolah mungkin masih berdiri. Angka pendaftaran mungkin tidak langsung anjlok. Namun, begitu anak perempuan mulai absen, tertinggal, atau mengambil lebih banyak pekerjaan di rumah, jalan untuk kembali menjadi semakin terjal. Kehilangan pendidikan jarang sekali terlihat dramatis pada awalnya. Prosesnya bertahap, senyap, dan menghancurkan.

Peringatan UNICEF harus dipahami dalam konteks tersebut. Enam juta lebih anak putus sekolah bukan hanya angka dalam perdebatan tentang bantuan. Ini adalah ramalan tentang masa kanak-kanak yang terganggu dan masa depan yang menyempit. Dan di banyak tempat, kursi kosong pertama akan menjadi milik anak-anak perempuan yang posisinya di kelas tidak pernah terjamin, hanya diamankan untuk sementara. Ketika pemotongan dana tiba, kemajuan yang rapuh itu bisa hilang lebih cepat dari yang dunia perkirakan.

Publication

The World Dispatch

Source: Editorial Desk

Category: Education