Selat Hormuz Dibuka Kembali Selama Gencatan Senjata Israel-Lebanon

17 April 2026

Selat Hormuz Dibuka Kembali Selama Gencatan Senjata Israel-Lebanon

Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya selama gencatan senjata Israel-Lebanon, kata seorang pejabat tinggi Iran. Perkembangan besar ini membuat pasar dunia bergairah.

Ketegangan yang mengguncang pasar global mulai mereda. Selat Hormuz kini dibuka kembali untuk lalu lintas komersial, menurut pengumuman dari Washington dan Teheran. Langkah ini bertepatan dengan dimulainya gencatan senjata 10 hari yang rapuh antara Israel dan Lebanon. Gencatan senjata itu tercapai setelah pertempuran sengit selama berminggu-minggu. Menteri Luar Negeri Iran Sayyed Abbas Araghchi menyatakan kapal-kapal komersial dapat kembali melewati jalur air vital itu selama gencatan senjata berlangsung. Presiden Donald Trump membenarkan kabar ini dan memujinya sebagai terobosan besar. Namun, Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pengiriman langsung ke dan dari pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan yang lebih luas tercapai.

Jaminan jalur aman melalui selat ini membawa kelegaan setelah periode yang sangat tidak stabil. Sebelumnya, Iran telah membatasi lalu lintas laut secara ketat di titik strategis itu. Pembatasan ini menyusul pecahnya konflik langsung dengan Amerika Serikat dan Israel pada bulan Februari. Penutupan jalur air ini, yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak dunia, memicu lonjakan tajam harga energi. Hal ini juga menyebabkan gangguan parah pada rantai pasokan global dan memicu kekhawatiran akan krisis ekonomi dunia. Pembukaan kembali ini, meskipun bersyarat, langsung menyebabkan harga minyak anjlok, yang mencerminkan betapa pentingnya jalur air tersebut.

Perkembangan ini terkait langsung dengan gencatan senjata baru yang dimediasi AS di perbatasan utara Israel. Jeda pertempuran ini terjadi setelah eskalasi parah antara Israel dan Hizbullah. Pertempuran itu dimulai setelah kelompok yang didukung Iran tersebut bergabung dalam konflik AS-Iran yang lebih luas pada awal Maret. Pertempuran itu sendiri merupakan perpanjangan dari konflik berkepanjangan yang dimulai pada Oktober 2023, yang mencakup invasi darat Israel ke Lebanon selatan pada akhir 2024. Gencatan senjata terbaru ini didahului oleh perundingan langsung tingkat tinggi pertama dalam beberapa dekade antara pejabat Israel dan Lebanon di Washington. Teheran menggambarkan perundingan ini sebagai komponen penting untuk de-eskalasi regional.

Namun, di balik kabar baik ini, situasinya tetap genting. Gencatan senjata di Lebanon hanya bersifat sementara, dan para pejabat Israel menyatakan militer mereka tetap dalam siaga tinggi. Di Iran, kelompok garis keras telah mengeluarkan pesan yang bertentangan. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa selat itu bisa ditutup lagi jika blokade Amerika tidak dicabut. Pernyataan-pernyataan ini menyoroti ketidakpercayaan mendalam yang mempersulit setiap kemajuan diplomatik. Ini menunjukkan bahwa isyarat niat baik dari semua pihak masih tentatif dan dapat dengan mudah dibatalkan.

Beberapa hari ke depan akan menjadi ujian krusial bagi langkah-langkah awal menuju perdamaian ini. Upaya diplomatik diperkirakan akan semakin gencar, dengan adanya laporan tentang putaran baru perundingan tingkat tinggi antara pejabat Amerika dan Iran. Perundingan itu kemungkinan akan diadakan akhir pekan ini di Pakistan. Pembicaraan ini bertujuan untuk menciptakan kesepakatan yang lebih komprehensif dan tahan lama. Kesepakatan itu akan menjawab isu-isu inti konflik, termasuk program nuklir Iran dan pencabutan sanksi. Komunitas internasional mengamati dengan hati-hati, berharap celah kecil ini bisa diperlebar menjadi jalan nyata untuk menjauh dari perang regional yang lebih luas.

Source: washingtontimes

Publication

The World Dispatch

Source: World News API