Jalur Ziarah Kuno Bangkit Kembali, Didorong oleh Pejalan Kaki Sekuler

30 Maret 2026

Jalur Ziarah Kuno Bangkit Kembali, Didorong oleh Pejalan Kaki Sekuler

Kebanyakan orang mengira seiring masyarakat global menjadi lebih sekuler, praktik keagamaan kuno akan perlahan hilang dan hanya menjadi catatan sejarah. Pandangan umum mengatakan bahwa manusia modern, yang dilengkapi ponsel pintar dan transportasi cepat, tidak lagi membutuhkan tradisi berat dan berdebu dari umat di abad pertengahan. Tingkat kehadiran di gereja terus menurun di banyak negara maju, membuat banyak rumah ibadah bersejarah menjadi kosong. Namun, jika kita melihat lebih dekat jalur-jalur suci tertua di dunia, ada sebuah fakta mengejutkan. Perjalanan ziarah secara fisik tidak sedang mati. Sebaliknya, perjalanan ini mengalami kebangkitan besar yang tak terduga, yang sebagian besar didorong oleh orang-orang yang jarang datang ke pertemuan keagamaan tradisional.

Angka-angka yang ada menceritakan kisah luar biasa tentang pergeseran budaya. Ambil contoh Camino de Santiago, sebuah jaringan rute Kristen bersejarah yang membentang melintasi Eropa menuju sebuah katedral di barat laut Spanyol. Selama akhir abad ke-20, jalur ini hampir ditinggalkan. Catatan menunjukkan bahwa pada pertengahan 1980-an, kurang dari tiga ribu orang menyelesaikan perjalanan ini setiap tahun. Rute tersebut dianggap sebagai peninggalan sejarah. Namun pada 2023, kantor penerimaan peziarah mencatat hampir setengah juta pejalan kaki tiba di katedral tersebut. Jumlah pengunjung menjadi begitu besar sehingga infrastruktur lokal terus diperluas hanya untuk mengimbangi lalu lintas pejalan kaki setiap hari.

Lonjakan ini tidak hanya terjadi di Eropa. Jepang juga mengalami ledakan minat serupa pada Kumano Kodo, sebuah jaringan jalur kuno Buddha dan Shinto yang berkelok-kelok melewati hutan pegunungan yang lebat. Di seluruh Inggris, jalur-jalur keagamaan bersejarah seperti St. Cuthbert’s Way dan Pilgrims' Way menarik jumlah pendaki yang mencapai rekor. Orang-orang ini mencari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada liburan biasa, dengan memilih kelelahan fisik daripada kenyamanan.

Yang membuat ledakan ini begitu mencolok adalah demografi orang-orang yang menempuh jalur ini. Survei dan data pariwisata daerah secara konsisten menunjukkan bahwa sebagian besar peziarah modern tidak menganggap diri mereka religius secara tradisional. Studi Pew Research Center selama dekade terakhir telah melacak peningkatan tajam pada individu yang menggambarkan diri mereka sebagai spiritual tetapi tidak religius. Bagi kelompok yang terus tumbuh ini, ziarah kuno menawarkan kerangka yang sempurna. Perjalanan ini menyediakan sejarah mendalam dan struktur ritual tradisional tanpa menuntut kepatuhan ketat pada teologi atau dogma institusional tertentu.

Penyebab mendasar dari fenomena ini terkait erat dengan kecemasan kehidupan modern. Orang-orang semakin kewalahan oleh konektivitas digital, siklus berita yang tiada henti, dan isolasi sosial. Dunia modern bergerak dengan kecepatan tinggi, menyisakan sangat sedikit ruang untuk refleksi yang tenang atau kesadaran fisik. Kita menghabiskan hari-hari kita menatap layar, terputus dari tubuh dan lingkungan alam kita. Jalan kaki jarak jauh menawarkan penawar yang radikal dan cepat untuk kelelahan modern ini.

Perjalanan ini memaksa seseorang untuk melambat, mengikuti kecepatan langkah kakinya sendiri. Upaya fisik berjalan kaki sekitar 24 kilometer sehari menciptakan penghalang alami dari gangguan dunia luar. Ini menyederhanakan kehidupan sehari-hari menjadi kebutuhan dasar dan mendesak, seperti mencari air bersih, mengobati lecet yang menyakitkan, dan mencapai kota berikutnya sebelum gelap. Dalam keadaan yang serba sederhana ini, para pejalan kaki sering kali menemukan kejernihan pikiran dan kedamaian batin yang dulu disediakan oleh agama institusional tradisional melalui liturgi mingguan. Kesulitan fisik ini menjadi semacam meditasi bergerak.

Penerimaan kaum sekuler terhadap rute-rute suci ini telah menimbulkan konsekuensi yang signifikan, baik positif maupun kompleks. Pada tingkat ekonomi, kebangkitan jalur-jalur ini telah menghidupkan kembali desa-desa pedesaan yang sedang kesulitan. Kota-kota kecil di Spanyol, Prancis, dan Jepang yang dengan cepat kehilangan populasi mudanya kini ditopang oleh aliran pejalan kaki global yang stabil. Perekonomian lokal ini sepenuhnya bergantung pada para peziarah yang membutuhkan tempat tidur, makanan hangat, dan pasokan dasar. Toko-toko yang tadinya tutup telah berubah menjadi hostel dan kafe yang ramai.

Namun, masuknya para pencari makna dari kalangan sekuler ini juga telah menciptakan gesekan sosial yang jelas. Para pemimpin agama tradisional dan umat setempat terkadang kesulitan menghadapi perubahan suasana di ruang-ruang leluhur mereka. Tempat-tempat yang dulunya disediakan untuk doa dan penebusan dosa dalam keheningan kini sering kali dipadati oleh turis yang memperlakukan perjalanan suci ini hanya sebagai tantangan atletik atau latar untuk foto media sosial. Definisi dari tempat suci itu sendiri sedang dinegosiasikan ulang di lapangan, menciptakan ketegangan yang rumit antara melestarikan warisan keagamaan dan menyambut jenis peziarah yang sama sekali baru.

Mengelola ketegangan ini membutuhkan pendekatan yang bijaksana dari institusi keagamaan dan pemerintah daerah. Beberapa keuskupan dan badan warisan sejarah telah mulai menciptakan dua jalur interaksi. Mereka mengembangkan program orientasi yang mengedukasi pejalan kaki sekuler tentang sejarah keagamaan yang mendalam dan etiket yang diharapkan di tempat-tempat suci yang mereka lewati. Daripada menolak mereka yang tidak beriman, banyak ordo keagamaan yang mengelola hostel di sepanjang rute memilih untuk merangkul mereka sepenuhnya. Mereka menawarkan sesi renungan malam sukarela yang berfokus pada tema-tema kemanusiaan universal seperti rasa syukur, ketahanan, dan kebersamaan, untuk menemukan titik temu antara mereka yang taat dan mereka yang ragu.

Selain itu, para pengelola rute harus berinvestasi besar dalam infrastruktur berkelanjutan agar jalur-jalur ini tetap layak. Membatasi jumlah pengunjung harian, memperluas pengelolaan sampah di pedesaan, dan mengarahkan dana pariwisata untuk pemeliharaan jalur dapat melindungi ekosistem yang rapuh ini. Jalur-jalur ini harus dilindungi agar tidak rusak karena terlalu banyak dikunjungi oleh jutaan turis spiritual yang tanpa sengaja merusak lanskap yang justru datang untuk mereka kagumi.

Kebangkitan kembali ziarah kuno membuktikan bahwa sekularisasi tidak menghapus keinginan manusia akan hal-hal yang sakral. Sekularisasi hanya menggeser ke mana orang-orang pergi untuk menemukannya. Bangku-bangku gereja tradisional mungkin mulai kosong di banyak komunitas, tetapi jalanan berdebu justru penuh sesak. Manusia modern masih sangat mendambakan sebuah perjalanan yang menguji fisik dan menjernihkan pikiran mereka. Mereka tetap ingin berjalan di jejak para leluhur dan merasa terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari rutinitas harian mereka. Selama dunia modern tetap kacau dan terputus, jalur-jalur kuno akan terus memanggil, menawarkan sebuah jalan yang tenang dan pasti menuju makna.

Publication

The World Dispatch

Source: Editorial Desk

Category: Religion